Showing posts with label MATERI KULIAH. Show all posts
Showing posts with label MATERI KULIAH. Show all posts

Sunday, September 20, 2020

Unknown

TEORI MOTIVASI DOUGLAS Mc. GREGOR DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

 

PEMBAHASAN TEORI MOTIVASI

DOUGLAS Mc. GREGOR DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

 

Awalnya, Mc. Gergor menerapkan teori motivasi “X” dan “Y” di lingkungan industri. Ia tidak hanya menemukan kegunaan dalam menyusun tata observasinya, tetapi ternyata data itu secara retroaktif merupakan sumber pengesahan dan pembuktian atas teori itu. Dari bidang inilah, dan bukan dari laboratorium dukungan empiris mengenai teori ini diperoleh (Maslow, 1993).

Teori ini menggabungkan kedua sumber motivasi, yakni motivasi internal dan motivasi eksternal (Hick, 1995). Dalam teori ini, motivasi eksternal dimanifestasikan dalam asumsi yang dibuat oleh manajer mengenai sifat-sifat bawahannya. Dalam konteks pendidikan, sebut saja manajer sebagai guru atau tenaga pendidik, dan bawahan sebagai peserta didik.  Hal tersebut menentukan bagaimana seorang guru atau tenaga pendidik mempelajari sifat-sifat peserta didik yang menentukan bagaimana cara memotivasinya agar mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Dari cara guru memahami sifat-sifat peserta didik, asumsinya guru merupakan penyebab bagi tingkah laku siswa atau peserta didik. Anggapan tentang X atau Y dalam teori ini akan mempengaruhi bagaimana guru memberikan model pengajaran dan memotivasi peserta didiknya, yang berakibat pada prestasi peserta didik.

Mc. Gregor mengajukan 2 alternatif mengenai kepribadian manusia. Yang pertama disebut Teori X. Asumsi teori X adalah sebagai berikut :

1.    Sudah menjadi sifatnya manusia rata-rata mempunyai suatu perasaan yang tidak menyukai suatu pekerjaan dan akan menghindarinya jika dapat.

2.    Disebabkan oleh sifat-sifat khusus manusia yang tidak menyukai pekerjaan, kebanyakan orang harus dipaksa, dikendalikan, diatur dan diancam dengan hukuman agar mereka terdorong untuk meraih tujuan.

3.    Manusia rata-rata menjadi lebih suka diatur, berusaha menghidarkan tanggungjawab, secara relatif memiliki sedikit ambisi, menghendaki keamanan/ jaminan hidup atas segalanya[1].

Pendeknya, teori X menjelaskan bahwa pada dasarnya mengatakan bahwa manusia memiliki ciri-ciri negatif (Siagian, 2005).

Pandangan Mc. Gregor lainnya mengenai sifat dasar manusia disebut teori Y yang berisikan asumsi yang ia percaya mampu untuk membimbing kepada motivasi yang lebih besar dan meningkatkan pemenuhan kedua kepentingan yaitu individu dan tujuan organisasi. Asumsi teori Y adalah sebagai berikut :

1.    Mereka memandang kegiatan bekerja sebagai hal yang alamiah seperti halnya beristirahat dan bermain.

2.    Mereka akan berusaha melakukan tugas tanpa terlalu banyak diarahkan dan akan berusaha mengendalikan diri sendiri.

3.    Pada umumnya mereka akan menerima tanggung jawab yang lebih besar.

4.    Mereka akan berusaha menunjukkan kreativitasnya dan oleh karena itu akan berpendapat bahwa mengambil keputusan merupakan tanggung jawab mereka juga [2].

Pada dasarnya teori Y mengatakan bahwa manusia memiliki ciri-ciri positif (Siagian, 2005).

Dalam pendidikan, seorang guru atau tenaga pendidik yang menganut anggapan teori X, akan memiliki model pembelajaran yang cenderung otokratik dan lebih suka mengatur. Sebaliknya, guru yang mengikuti teori Y akan lebih menyukai model pembelajaran yang partisipatif dan demokratis (Handoko, 2011).

Dasar teori Y yang terpenting adalah integrasi – pembentukan suatu lingkungan dimana (dalam konteks ini peserta didik) dapat berprestasi dengan sebaik-baiknya mengenai tujuan mereka. Dengan cara tersebut, teori ini menitikberatkan pada tingkat motivasi internal yang besar. Tekanan yang berat pada motivasi internal dimaksudkan agar semua peserta didik termotivasi oleh kepentingan penghargaan untuk diri sendiri dalam mengerjakannya. Namun perlu diingat bahwa peserta didik memiliki keunikan tersendiri yang berbeda-beda, oleh karena itu motivasi ekternal perlu dilakukan karena memiliki tingkat kefleksibelan untuk menyesuaikan setiap individu yang berbeda dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Apabila dikaitkan dengan teori Maslow akan terlihat gejala bahwa mereka yang tergolong sebagai manusia “X” akan lebih mementingkan pemuasan kebutuhan “tingkat rendah”, seperti pemuasan kebutuhan pokok dan kurang memberikan perhatian pada kebutuhan aktualisasi diri. Sebaliknya, yang terjadi pada tipe “Y” pemuasan kebutuhan yang sifatnya psikologis lebih diutamakan daripada pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang besifat kebendaan (Siagian, 2005).

Kedua pandangan teori tersebut mempengaruhi cara memotivasi peserta didik. Banyak anak yang tidak berkembang karena tidak memperoleh motivasi yang tepat (Hamzah 2007). Jika seseorang  mendapat motivasi yang tepat, maka hasil akan tercapai. Teori tokoh satu dengan yang lain pada dasarnya saling melengkapi, sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang (Purwanto, 2011). Pada akhirnya, dalam pendidikan hendaknya tidak memberikan sugesti negatif yang membuat peserta didik rendah diri dan tidak men-judge anak dengan asusmsi teori X menggunakan labelling-labelling yang menghambat motivasi dan aktualisasi peserta didik.

 

BAB III

TERAPAN TEORI MOTIVASI

DOUGLAS Mc. GREGOR DALAM PENDIDIKAN

 

Motivasi merupakan aspek yang sangat penting dari pembelajaran. Apa dan seberapa banyak hal-hal yang dipelajarai akan dipengaruhi oleh motivasi pelajar (Santrock, 2008). Guru atau tenaga pendidik sebagai sosok yang sangat berperan dalam memotivasi peserta didik dituntut untuk selalu memiliki inovasi bagaimana menjadikan suasana kelas yang kondusif. Selain itu, sistem pendidikan juga akan mempengaruhi hasil belajar mengajar.

Perbedaan individual yang diasumsikan dalam teori X dan Y perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pengajaran di kelas. Banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan untuk memahami perbedaan individual, mulai dari kecerdasan sampai pada aspek psikologis lainnya.

Perlakuan terhadap peserta didik yang diasumsikan pada teori X, hendaknya menggunakan pendekatan yang tegas namun tidak memberikan sugesti negatif dan labelling yang justru membuat peserta didik rendah diri. Untuk murid yang berprestasi rendah; guru harus membantu mereka untuk mencapai tujuan belajar dan beri dukungan untuk mencapai tujuan itu,  mendorong peserta didik untuk bekerja keras dan membuat kemajuan. Untuk murid yang memiliki sindrom kegagalan atau yang pernah mengalami kegagalan dan enggan untuk bangkit; dorong mereka untuk berpikir positif dan memahami apa yang menyebabkan mereka gagal, kemudian membantu memberikan solusi terbaik. Dan bagi murid atau peserta didik yang cenderung pasif dan melindungi harga diri dengan tidak mau bekerja keras, malas dan cenderung melakukan hal-hal yang membuatnya merasa “aman”, hendaknya guru memberi tugas yang memancing rasa ingin tahu mereka, beri motivasi ekstrinsik berupa imbalan pada semua kategori murid jika ia menunjukkan progress dalam belajar, dorong murid untuk memegang keyakinan positif terhadap kemampuan mereka sendiri, menekankan peran guru sebagai pembimbing dan mendukung usaha pembelajaran murid, bukan sebagai figur otoriter yang hanya mengontrol perilaku peserta didik (Santrock, 2008).

Sebaliknya, perlakuan terhadap peserta didik yang diasumsikan pada kriteria teori Y, perkuat motivasi intrinsik dan dorongan untuk mengaktualisasikan dirinya dengan motivasi ekstrinsik berupa suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan, hadiah atau penghargaan yang tepat, pujian bahwa mereka kompeten dan menghidarkan murid dari kelelahan berlebih pada fisik maupun mental.

Secara keseluruhan, perlakuan terhadap asumsi teori X maupun Y harus diterapkan dalam situasi pembelajaran dengan cara yang tepat. Karena perbedaan individu pasti akan selalu ada, maka solusi mewadahi kedua teori, yakni X dan Y untuk memecahkan masalah tersebut dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar dengan cara :

1.    Memberikan waktu istirahat yang cukup agar peserta didik tidak mengalami kejenuhan belajar yang berdampak pada turunnya motivasi.

2.    Walaupun jarang diterapkan, membiarkan peserta didik mengawali hari dengan pelajaran yang paling disukai, akan menguatkan motivasi mereka dalam belajar dan membuat mereka semangat untuk berangkat ke sekolah.

3.    Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi posisi meja (bangku), rak buku dll. Sampai memungkinkan siswa merasa berada di kamar baru yang lebih menyenangkan.

4.    Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya [3].

Selain beberapa cara diatas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi intrinsik, sehingga peserta didik beranggapan bahwa apa yang akan mereka lakukan bukan karena imbalan eksternal. Cara ini mempromosikan determinasi diri dan siswa memiliki pilihan sendiri dalam melakukan tanggung jawabnya, yakni antara lain :

1.    Luangkan waktu. Luangkan waktu untuk berbicara dengan murid dan jelaskan mengapa aktivitas pembelajaran yang harus mereka lakukan adalah penting.

2.    Bersikap penuh perhatian. Perhatikan perasaan murid saat mereka disuruh untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan.

3.    Kelola kelas dengan efektif. Usahakan agar murid bisa membuat pilihan personal. Biarlah murid memilih topok sendiri, tugas menulis dan proyek riset sendiri. Beri mereka pilihan dalam  cara melaporkan tugas mereka.

4.    Ciptakan putsat pembelajaran. Murid dapat belajar sendiri atau secara kolaboratif dengan murid lain untuk proyek yang berbeda. Murid  dapat memilik aktivitas yang mereka lakukan.

5.    Bentuk kelompok minat. Bagi murid ke dalam kelompok minat dan biarkan mereka megerjakan tugas riset yang relevan dengan minat mereka[4].

6.    Buat program yang menyenangkan dan libatkan mereka untuk menentukan kegiatan di luar jam pelajaran. Misal; Sehari berbahasa Inggris, mengadakan program rutin saat liburan semester dll.

Banyak hal yang perlu dilakukan untuk membuat peserta didik menikmati pembelajaran yang efektif. Inovasi dan pemikiran kreatif harus selalu dikembangkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan dalam hal berprestasi dan keterampilan lainnya.

 

 



[1] Douglas Mc. Gregor. The Human Side  of Enterprise. Mc. Graw Hill. New York. 1960

[2] Sondang P. Siagian. Fungsi-Fungsi Manajerial : Edisi Revisi. Bumi Aksara, Jakarta. 2005

[3] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan : Suatu Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya, Bandung. 1995

[4] John W. Santrock. Psikologi Pendidikan. Kencana, Jakarta. 2008

Thursday, September 17, 2020

Unknown

KEPRIBADIAN MENURUT TEORI FREUD

 

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

“ 

 

                                

            Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat, rakhmat dan karuniaNya sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik dan  lancar.

Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas  dengan judul kepribadian menurut teori freud.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah tersebut hingga akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. 

Penulis sadar bahwa penulisan makalah ini belum sempurna dan masih banyak kekurangan yang perlu di evaluasi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

I.                    PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

B.     Perumusan Masalah

C.     Tujuan

II.                 PEMBAHASAN

A.    Dinamika Kepribadian

B.     Pendistribusian dan Penggunaan Energi Psikis

C.     Perkembangan Kepribadian

D.    Komentar tentang Teori Psikoanalisis Freud

III.              PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

            Dalam mendiskripsikan kepribadian Freud membagi tiga pokok bahasan yakni Struktur kepribadian, Dinamika kepribadian, dan Perkembangan kepribadian. Struktur kepribadian menurut Freud kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran yakni sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan  tak sadar (unconscious) ketiga peta kesadaran ini dipakai untuk mendiskripsikan unsure cermati(awareness) dalam setiap event mental seperti berfikir dan berfantasi, sampai pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain yakni id, ego, superego. Struktur baru ini tidak mengganti structural lama namun melengkapai/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuan.

1.      Sadar (Conscious)

            Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu, menurut Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan,  ingatan) yang masuk kesadaran(consciousness). Isi daerah sadar ini adalah penyaringan yang diatur stimulus atau cue-eksternal dan isi dari daerah ini hanya singkat  yaitu conscious segera tertekan oleh preconscious.

2.      Prasadar (Preconcious)

            Atau bisa disebut ingatan siap (available memory) yakni jembatan antara tingkat sadar dan tak sadar, contohnya adalah pengalaman yang ditinggalkan oleh perhatian semula disadarai kemudian tidak lagi dicermati akan tetapai dipindah kedaerah prasadar.

3.      Taksadar ( Unconcious)

            Adalah bagian paling dalam dari struktur kesadaran menurut Freud bagian terpenting dari jiwa manusia,secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empiric.

Namun pada perkembangannya Freud mengenalkan tiga model struktural lama yaitu:

1.      The Id (Is latin atau Es Jerman)

   Id merupakan sistem kepribadian yang asli atau primitive dan di bawa sejak lahir,berisi insting dan penyedia energi psikis untuk dapat beroperasinya sistem yang lain, hanya mengetahui dunia dalam dan tidak berhubungan dengan dunia luar serta tidak memiliki pengetahuan mengenai realitas objektif. Mengikuti prinsip kenikmatan dan bekerja dlam bentuk proses primer (seperti orang lapar membayangkan makan), tujuannya adalah mengenali kenikmatan dan rasa sakit sehingga memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit dengan cara reflex dan reaksi otonom serta proses primer ( membayangkan makanan saat lapar) bersifat tidak rasional dan beroperasi di daerah unconscious ( tak sadar).

 

2.      The Ego (Das Ich Jerman)

                 Berkembang dari id untuk menenangi dunia eksternal, memperoleh energy dari id serta memiliki pengetahuan baik menegenai dunia dalam maupun realitas objek, mengikuti prinsip realita dan bekerja dalam bentuk proses sekunder tujuannya untuk membedakan antara fantasi dengan realita sehingga dapat memuaskan kebutuhan organism harus dapat menggabungkan kebutuhan id, super ego dan dunia eksternal. Tujuannya umumnya adalah memepertahankan hidup dan kehidupan jenisnya ( reproduksi) menunda kepuasan insting sampai kepuasan itu mengalami konflik dengan superego dan dunia eksternal yang bersifat rasional dan beroperasi didaerah conscious, preconscious dan unconscious contohnya apabila kita lapar maka kita mencari tempat untuk makan. Dalam hal ini ego berupaya untuk mencapai tujuan-tujuan dalam jangka waktu yang panjang dengan cara menunda kesenagan sesaat. Hal yang perlu diperhatikan dari ego adalah :

·          Ego merupakan bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id, bukan untuk mengecewakannya

·          Seluruh energy ego berasal dari id, sehingga ego tidak terpisah dari id

·         Peran utamanya menengahi kebutuhan id dan lingkungan sekitar

·         Ego bertujuan untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembangbiakannya

3.       The Superego (Das Ueber Ich Jerman)

        Super ego merupakan perkembanagn dari ego sehingga merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan standar atau  norma masyarakat mengenai baik dan buruk benar dan salah serta individu telah menerima latihan atau informasi tentang tingkah laku yang baik dan yang benar,mengikuti prinsip conscience dan ego ideal tujuannya membedakan antara benar dan salah dan menuntut bahwa diri telah mematuhi ancaman moral dan memuaskan kebutuhan kesempurnaan, menghambat kepuasan insting bersifat tidak rasional beroperasi didaerah conscious, preconscious dan unconscious super ego berfungsi untuk :

·         Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif, karena dalam perwujudannya sanagt dikutuk oleh masyarakat

·         Mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistic dengan tujuan-tujuan moralistic

·         Mengejar kesempurnaan.

 

 

 

 

B.     PERUMUSAN MASALAH

      Agar kita dapat membandingkan antara satu buku dengan buku yang lain dan memehami tentang isi dari teori Sigmound Freud.

 

C.    TUJUAN

Agar mampu untuk memahami dan memngerti tentang teori sigmound freud tentang kepribadian dan mengetahui tentang kepribadian itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    DINAMIKA KEPRIBADIAN

1.      Instink

    instink merupakan  kumpulan hasrat atau keinginan dalam kenyataannya instink hanya merefleksikan sumber-sumberkepuasan badaniah atau kebutuhan-kebutuhan, tujuan dari instink adalah mereduksi ketegangan yang dialami sebagai suatu kesenagan. Intink memilik 4 macam sifat yaitu :

a.        Sumber intink

      Kondisi jasmaniah

b.      Tujuan instink

Menghilangkan rangsangan kejasmanian

c.       Obyek instink

Segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu.

d.      Pendorong atau penggerak instink

Kekuatan instink itu tergantung kepada intensitas kebutuhan

 

Intink juga dapat dikelompokan menjadi bebrapa kelompok

·         Instink Hidup

Merupakan motif dasar manusia yang mendorong untuk bertingkah laku secara positif atau konstruktif serta berfungsi untuk melayani tujuan manusia agar tetap hidup dan mengembangkan rasnya contohnya lapar, haus, seks.

·         Instink Mati

Merupakan motif dasar manusia untuk melakukan tingkah laku yang bersifat negative atau destruktif,Freud meyakini jika manusia lahir membawa dorongan untuk mati pendapat ini didasari kepada prinsip konstansi dari Fechner yaitu bahwa semua proses kehidupan itu cenderung kembali kepada dunia anorganis. Fungsi dari instink ini tidak jelas oleh karena itu tidak begitu terkenal. Instink ini memiliki karakteristrik seperti sumber, tujuan, objek, pendorong/penggerak.

 

 

B.     PENDISTRIBUSIAN dan PENGGUNAAN ENERGI PSIKIS

            Dalam proses pendistribusian energy itu terjadi persaingan antara ketiga komponen kepribadian, maka suasana konflik diantara ketiga komponen tersebut tidak terelakan disamping itu ego mendapat tekanan yang begitu kuat dari id maupun superego, apabila tekanan begitu mengancam sehingga melahirkan kecemasan maka ego membentuk mekanisme pertahanan,mengenai masalah konflik, kecemasan, dan mekanisme pertahanan.

 

1.      K onflik

            Tingkah laku manusia merupakan hasil dari rentetan konflik internal terus menerus yaitu antara id, ego, superego adlah hal yang biasa dan rutin. Contohnya adlah id mendorong untuk memukul anak yang mencemooh kita namun superego menghentikannya karena  hal itu merupakan tindakan yang kurang baik. Freud yakin jika hal tersebut merupakan dorongan seks dan agresif hal tersebut memiliki alasan yaitu Freud berfikir jika seks dan agresif merupakan dorongan yang lebih kompleks dan membingungkan control sosial daripada motif-notif dasar lain dan dorongan seks dan agresi dirintangi secara lebih teratur daripada dorongan biologis.

 

2.      Kecemasan

      Kecemasan merupakan fungsi ego untuk memeperingati individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Ada tiga jenis kecemasan diantaranya :

·         Realistic anxiety

       Kecemasan ini menjadi dasar timbulnya kecemasan neurotik dan kecemasan moral.

 

·         Neurotik anxiety

      Ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua atau figure penguasa lainnya kalu seseorang memuaskan instink dengan caranya sendiri dan bakal menuai hukuman.

 

·         Kecemasan  moral

       Pada kecemasan ini orang tetap rasional dalam memikirkan masalah berkat energi superego.

 

3.      Mekanisme pertahanan

  Proses mental yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan melalui dua karakteristik khusus yaitu tidak disadari dan menolak. Semua mekanisme pertahanan memiliki tiga persamaan ciri :

·         Bekerja pada tingkat  tak sadar

·         Selalu menolak, memalsukan, memutar balikkan kenyataan

·         Mengubah persepsi nyata seseorang sehingga kecemasan menjadi kurang mengancam

Jenis-jenis mekanisme pertahanan :

1.      Represi

    Merupakan proses penekanan dorongan-dorongan  ke alam tak sadar, karena mengancam keamanan ego. Contoh seorang remaja memiliki hasrat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (seks) namun keinginan tersebut ditekan sedemikian rupa karena perbuatan tersebut melanggar norma agama.

 

 

 

 

2.      Projeksi

    Merupakan pengalihan pikiran, perasaan, atas dorongan diri sendiri kepada orang lain. Contoh seseorang mengatakan “ Ia membenci saya” sebagai gantinya “Saya membenci dia”.

 

3.      Pembentukan Reaksi

      Pengganti sikap dan tingkah  laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan. Contohnya perasaan benci menjadi cinta, rasa bermusuhan diganti dengan ekspresi persahabatan

 

4.      Pemindahan Objek

      Proses pengalihan perasaan (biasanya perasaan marah) dari objek asli ke objek pengganti. Contoh seorang pegawai yang dimarahi atasannya di kantor, pada saat pulang dia membanting pintu rumah dan marah-marah kepada anaknya atau seorang remaja yang dimarahi orang tuanya kemudian memukul adiknya. Ada 3 macam reaksi pemindahan :

·         Sublimas

·         Subtitusi

·         Kompensasi

 

5.      Fiksasi

      Mekanisme yang memungkinkan orang mengalami kemandegan dalam perkembangannya, karena merasa cemas untuk melangkah keperkembangan selanjutnya. Contoh anak usia 7 tahun masih menghisap jempol dan belum berani berpegian tanpa ibunya.

 

6.      Regresi

     Pengulangan kembalitingkah laku yang cocok bagi tahap perkembangan atau usia sebelumnya (perilaku kekanak-kanakan) tujannya adalah untuk memperoleh bantuan dalam menghadapi traumatic contohnya setelah bertengkar dengan suaminya seorang wanita muda pulang kerumah orang tuanya disana ia menampilkan diri sebagai seorang anak yang memerlukan perlindungan kepada orang tuanya.

 

7.        Rasionalisasi

         Merupakan penciptaan kepalsuan namun dapat masuk akal sebagai upaya pembenaran tingkah laku yang tidak dapat diterima contohnya seorang mahasiswa yang memperoleh nilai jelek, dia berkata pada temannya bahwa hal itu terjadi karena dia tidak belajar

 

8.      Sublimasi

        Merupakan pembelotan atau penyimpangan libido seksual kepada kegiatan yang secara sosial lebih dapat diterima contohnya dorongan agresif yang sering  berkelahi dapat dibelotkan menjadi seorang petinju.

 

9.      Identifikasi

      Merupakan proses meniru atau mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasrat dibandingkan dirinya, contohnya orang dewasa aktif di klub-klub atau perkumpulan yang esklusif dan anak-anak mengidentifikasi orang tua atau gurunya. Mekanisme pertahanan identifikasi umum dipakai untuk 3 macam yaitu :

·         Merupakan cara orang untuk memperoleh kembali sesuatu obyak yang telah hilang

·         Mengatasi rasa takut

·         Memperoleh informasi baru dengan mencocokkan khayalan mental dengan kenyataan.

 

 

 

 

 

C.  PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

 

   Menurut Freud makna perkembangan kepribadian adalah belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan dan memperoleh kepuasan, ketegangan bersumber kepada empat aspek yaitu:

·         Pertumbuhan seperti peristiwa menstruasi dan mimpi pertama dapat menimbulkan perubahan aspek psikologis dan juga tuntutan baru seperti dalam berpakaian dan tingkah laku.

·         Frustasi jika anak tidak pernah frustasi tidak akan pernah berkembang dan jika anak dimanja tidak akan pernah berkembang rasa tanggung jawabnya.

·         Konflik terjadi antara id,ego dan superego jika anak dapat mengatasi setiap konflik yang terjadi diantara ketiga komponen kepribadian tersebut maka anak akan mengalami pertumbuhan yang sehat.

·         Ancaman

Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahap perkembangan yaitu oral, anal, dan falis.

a.       Fase Oral

Dari mulai lahir sampai umur 1,8 bulan , fokus perasaan senang daerah mulut dan bibir, karakteristrik perilaku mencari stimulasi oral menghisap meski tidak lapar serta akan menimbulkan hasil yang tidak diharapkan seperti merokok, alkoholisme, menggigit kuku,

 

b.      Fase Anal

         Pada usia 1,8 bln- 3 thn , fokus perasaan senang daerah rectum karakteristik perilaku menikmati saat menahan dan mengeluarkan feses, hasil yang tidak diharapkan memiliki kepribadian menantang, cara pelatihan dengan sikap pengertian egonya berkembang dengan wajar, cara pelatihan selalu memuji menjadi kurang mandiri, cara pelatihan dengan kekerasan menjdi bersikap kaku , penakut.

 

 

c.       Fase Falis  (Phallic)

         Pada usia 3-6thn, fokus perasaan senang daerah genital(alat kelamin). Karakteristrik perilaku tertarik genital, jatuh cinta pada orang tua dengan jenis kelamin berbeda. Proses ini juga disebut identifikasi yang memiliki bebrapa manfaat diantarnya :

·   Anak secara tidak langsung memperoleh kepuasan implus seksual kepada ibunya

·   Perasaan erotik kepada ibunya( yang berbahaya) diubah menjadi sikap menurut/sayang kepada ibu

·   Identifikasi kemudian menjadi sarana terpenting untuk mengembangkan superego, pada laki-laki superego adalah warisan dari Oedipus complex.

·   Identifikasi menjadi ritual akhir dari oidipus kompleks yang sesudah itu ditekan ke ketidaksadaran.

 

 

 

d.      Tahap Latensi

          Pada usia6-12 tahun, karakteristrik perilaku menegmbangkan kecakapan sosial dan intelektual, pada tahap ini anak-anak bermain secara kelompok laki-laki dengan laki-laki sedangkan perempuan dengan perempuan

 

e.       Tahap Genital

         Pada usia pubertas sekitar usia 12 atau 13 tahun, fokus perasaan senang genital, karakteristrik perilaku membangun hubungan dengan  lawan jenis, dan ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak.

 

 

D.    TEORI  KEPRIBADIAN PSIKOANALISIS terhadap BIMBINGAN dan KONSELING

                                

            Tujuan Bimbingan dan Konseling adalah memperkuat ego, sehingga mampu mengontrol dorongan-dorongan instink dan meningkatkan kemampuan individu dalam bercinta dan bekerja. Dalam melakukan bimbimbangan dan konseling menggunakan berbegai metode seperti :

a.       Asosiasi Bebas

      Merupakan teknik utama psikoanalisis dimana pasien diminta untuk mengatakan apa saja yang berada dalam pikirannya

 

b.      Analisis Mimpi

      Teknik ini sangat terkait dengan asosiasi bebas Cuma dalam teknik ini pasien menceritakannya dalam bentuk mimpi sehingga apa yang diimpikan dalam mimpi pasien menceritakannya.

 

c.       Interpretasi

      Cara memfasilitasi pasien untuk memahami ketidaksadaran.

 

d.      Resistensi

      Mekanisme pertahanan klien

 

e.       Transferensi

      Pengungkapan isi-isi ketidaksadaran yang tersimpan sejak anak-anak

 

f.        Working through

      Terus menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulang resistensi dan transferensi pada seluruh aspek pengalaman.

 

g.      Freud slip

      Meliputi salah ucap, seperti nglindur karena dipengaruhi oleh insting ketidaksadaran.

 

E.  KOMENTAR TENTANG TEORI PSIKOANALISIS FREUD

            Djamaludin A., dan Faut N.S., 1994:68 mengemukakan sesungguhnya manusia bukanlah mahluk yang berbeda, apalagi lebih unggul dari pada binatang.

         Malik B. Badri 1986:43 mengemukakan bahwa para psikolog eksperimen dan pengnut aliran tingkahlaku mengkritik teori psikoanalisis hanya sebagai spekulasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya melalui observasi.

         Ronald Fairbairn ego berda sejak lahir, dalam kenyataan yang ada hanya ego sedangkan id tidak adaoleh karena itu tidak ada konflik antara id dan ego. Ego berfungsi untuk mencari,menemukan, dan membangun relasi dengan objek-objek didunia luar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

           Teori psikoanalisis Freud memotret manusia baik fisik maupun psikisnya, sumbangan teori ini adalah bahwa proses taksadar mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tingkahlaku dan Freud membagi kehidupan jiwa menjadi tiga tingkatan kesadaran yaitu sadar, prasadar, tak sadar. Samapai pada tahun 1920 teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan ketiga model structural yang lain yakni id, ego, dan superego, struktur ini tidak mengganti struktur lama tetapi melengkapi/penyempurnaan gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alwisol,2009, edisi revisi psikologi kepribadian,Malang: UMM

Yusuf, Syamsul dan Juntika nurihsan,2011,teori kepribadian,Bandung: ROSDA

Suryabrata,Sumadi.2011,psikologi kepribadian,Jakarta Utara: RAJAWALI PERS